Showing posts with label fanfiction. Show all posts
Showing posts with label fanfiction. Show all posts

Wednesday, 18 August 2010

FF ; Saranghaesso, Mianhae (One Shot)

aku menghela nafas . kuhempaskan tubuhku ke salah satu bangku yang ada ditaman itu, aku menyenderkan punggung dan menengadahkan kepala dan menutup mataku, menghirup sensasi udara musim semi. Membiarkan wewangian dari berbagai jenis macam bunga yang mekar ditaman ini merasuki rongga paru-paruku.

"hhhh~" aku menghela nafas lagi, kali ini lebih panjang. Hatiku sungguh terasa seperti terhimpit sesuatu. Ya, masalahku yang pelik. Sulit untuk mencari jalan keluarnya. Karena aku sama saja seperti memakan buah simalakama, dimana jika aku memilih salah satu bagian, maka aku harus merelakan bagian yang lainnya untuk meninggalkanku selamanya.

"aaaaaaaaaaaarghhh !" jeritku putus asa. Aku sungguh merasa seperti orang bodoh, padahal selama ini orang-orang selalu menganggapku Choi Siwon si pintar. Baru kali ini aku mengalami dilema seberat ini. Sungguh, aku ingin menangis tapi aku tahu aku harus tegar.

-Flashback-

"Siwon hyung !" aku menoleh kearah suara yang memanggilku.

"ada apa, kyu ? mana eunchan?" tanyaku mencari-cari sosok sahabat perempuanku satu-satunya.

"ohh, tadi eunchan ke toilet sebentar, nanti dia menyusul kok" jawab Kyuhyun.

Cho Kyuhyun, ia adalah sahabatku semenjak kecil. Umurnya terpaut dua tahun lebih muda dariku. Aku sangat menyayanginya seperti adikku sendiri. Aku selalu berbagi cerita dan semua masalahku dengannya, begitu pula Kyuhyun. Ia sering meminta bantuanku untuk memecahkan berbagai macam masalah.
Sementara itu, Go Eunchan, sahabat perempuanku yang pertama dan satu-satunya. Jujur saja, aku tidak bisa cepat akrab dengan perempuan, tapi entah kenapa dengan Eunchan rasanya berbeda. Eunchan seumuran dengan Kyuhyun.
Kini, kami duduk di bangku SMA. Aku sedang menyelesaikan tahun terakhirku di SMA, sementara Kyuhyun dan Eunchan baru memulai tahun pertama mereka di SMA.

"Hyunnie ! Oppa !" panggil seseorang padaku dan Kyuhyun, kami menoleh bersamaan, walaupun sudah tahu siapa yang memanggil. Ya, Eunchan. Dia berlari menghampiriku dan Kyuhyun yang sedang asyik makan siang dikantin sekolah.

"Chan, kau tidak perlu teriak-teriak seperti itu, kalau kau begitu bukan hanya kami saja yang menoleh, tapi semua orang!" hardik Kyuhyun pada Eunchan yang kini duduk disampingku. Eunchan menggembungkan pipinya, ia terlihat sangat imut bila seperti itu. Aku dan Kyuhyun selalu gemas melihat tingkahnya yang seperti anak berumur lima tahun.

"Sudahlah Kyu, chan kan tidak sengaja." belaku. Eunchan tersenyum padaku.

"Gomawo oppa, kau memang paling pengertian! dasar kau jelek hyun! weeek!" ledek Eunchan pada Kyuhyun.

"Ya! Kau ini seperti bocah saja!"

"Mwoya? Ya! Cho Kyuhyun! Jangan sebut aku bocah!" balas Eunchan.

"Hey, kalian berdua jangan ribut ! sudahlaaaaaaaah" kataku menengahi.

"oppa, hyun jahat padaku!" rengek Eunchan padaku dengan puppy eyes nya. Aku tersenyum dan mengacak rambutnya.

"Chan, sudahlah. Nanti pulang sekolah oppa belikan es krim ya"

"jinjja?? kyaaaaaa, gomawo siwon oppaaaaa!" pekik Eunchan gembira. Kyuhyun mendengus pura-pura kesal.

"Hyung, kau sudah memilih universitas yang tepat?" tanya Kyuhyun padaku. Aku mengangguk.

"Aku akan kuliah di Kyunghee dan melanjutkan bisnis appaku"

"Pilihan yang bagus, direktur Choi!" ujar Eunchan seraya menepuk pundakku. Aku tertawa .

3tahun kemudian...

"Kyu, kau yakin akan melanjutkan studimu ke amerika?" tanyaku pada Kyuhyun. Ia mengangguk . Seminggu lagi ia akan berangkat ke Amerika.

"dan aku akan mengatakan perasaanku pada chan, hyung"

"Kudoakan semoga berhasil, Kyu" jawabku sambil tersenyum.

Ya, Kyuhyun mencintai Eunchan semenjak SD. Tapi, Kyuhyun baru berani mengatakan perasaan yang sebenarnya sekarang, ia takut saat ia pulang dari Amerika Eunchan telah memiliki pendamping hidup. Aku berusaha mendukungnya sepenuh hatiku, tapi kurasa aku gagal.
Kenapa?
Karena aku juga mencintai Eunchan, sama seperti Kyuhyun. Namun, aku tidak tega menyakiti sahabat yang sudah seperti dongsaengku sendiri. Disatu sisi, Aku telah dijodohkan oleh appa ku dengan Lee Minji. Anak rekan kerja appaku. Aku tidak mencintai Minji dan hanya menganggapnya sebagai adikku. Tapi, Minji terlihat begitu mencintaiku.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

"Eunchan, saranghaeyo" kudengar Kyuhyun menyatakannya. Aku mengintip dari celah pohon dan melihat ekspresi terkejut Eunchan menghiasi wajah cantiknya.

"H.. hyun?"

"Eunchan, aku mencintaimu. Sudah lama aku mencintaimu tapi aku baru berani menyatakannya sekarang. Aku takut sepulang dari Amerika kau sudah menemukan jodohmu, yang ternyata bukan aku. Would you be my girlfriend, Go Eunchan?"

Eunchan terlihat bingung. Ekspresinya sedih dan berat.

"Mian, hyun. Aku... aku mencintai orang lain.." jawab Eunchan, kulihat Kyuhyun tersentak.

"M.. Mwo? Jinjja? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?" tanya Kyuhyun. Eunchan tersenyum lemah.

"Aku tidak bisa, hyun.."

"wae?" desak Kyuhyun.

"Karena yang kucintai adalah Siwon oppa" jawab Eunchan. Aku tersentak, hampir saja aku berteriak dan melompat keluar dari tempat persembunyianku.

"MWO? Kau.. kau menyukai.. ani.. kau MENCINTAI siwon hyung??" tanya Kyuhyun tak percaya. Eunchan mengangguk.

"Aku tahu aku tidak pantas untuknya, dia juga sudah punya tunangan yang dijodohkan oleh appanya, tapi aku tetap mencintainya, hyun . Mianhae. Jeongmal mianhae" ujar Eunchan terisak.

Hatiku sakit mendengar suara isak tangis Eunchan yang begitu dekat. Ingin rasanya aku memeluk Eunchan, tapi aku juga tak kuasa untuk menyakiti perasaan Kyuhyun dengan melakukan itu dihadapannya.

"mian, hyun. Jeongmal mianhaeyo.."

"gwenchanhayo, chan. kalau begitu aku pamit dulu ya ke amerika. jangan merindukanku" ujar Kyuhyun. Kyuhyun memutar badannya dan berjalan menjauh dari Eunchan yang masih terisak, aku melihat bulir air mata jatuh dari mata seorang Cho Kyuhyun. Aku benar-benar terkejut melihat Kyuhyun berjalan menjauhi Eunchan sambil menangis. Sungguh, seumur hidupku aku tidak pernah melihat Kyuhyun menangis.

Eunchan berjalan menjauhi taman dan kurasa inilah saat yang tepat untuk keluar dari tempat persembunyianku.

"oh baby say goodbye, oh jamshiman goodbye~"

Handphoneku berbunyi nyaring.

"yeoboseyo?" jawabku. "MWO? Baiklah, aku segera kesana!"

------------------------------------------------------------------------------------------------------

-Flasback End-

Disinilah aku saat ini, taman yang sepi yang setia menemaniku.
Aku putus asa menghadapi ini semua. Apa yang harus kulakukan??
Aku baru saja pulang dari rumah sakit. Tidak, bukan aku yang sakit, melainkan appa. Appa terkena serangan jantung. Kini ia terbaring lemah dirumah sakit. Appa berpesan padaku untuk segera menikahi Minji. Aku tidak mencintai Minji, namun aku tidak kuasa menolak permintaan appa. Aku mencintai Eunchan-ku.

"ottokhajyo?" gumamku lirih.

"oppa?" tegur seseorang. Aku menoleh dan mendapati Eunchan berdiri tak jauh dari tempatku duduk.

"chan.." balasku lemah.

"oppa, kau kenapa? kau pucat sekali oppa. Apakah ada masalah?" kata Eunchan khawatir.

"aniyo, chan. naneun gwenchanhayo" jawabku tersenyum lemah.

"oppa, kau tahu tidak, ternyata selama ini Hyun mencintaiku..." aku menoleh saat Eunchan membahas hal itu.

"m..mwo?" aku berpura-pura terkejut.

"ya, tadi ia mengatakannya padaku di sini. Aku kaget,oppa . Aku tak menyangka Hyun mencintaiku"

"lalu, kau jawab apa ?" sulit sekali berakting disaat keadaanku sedang kacau begini.

"aku menolaknya oppa.." jawab Eunchan lirih.

"wae? apa kau tidak menyukai Kyu, chan?"

"ani, oppa. aku hanya menganggapnya sebagai sahabat terbaikku, sebab aku sudah mencintai orang lain"

"mwo? nuguya?" tanyaku sok polos, Eunchan menoleh kearahku dan memandang mataku dalam. Aku melihat tatapan sendu dari matanya.

"aku.. aku mencintaimu, oppa.. saranghaeyo.." ujar Eunchan lirih padaku. Aku tersentak. Lagi-lagi, aku belum bisa mempercayai kenyataan ini.
Eunchan yang kucintai, ternyata juga mencintaiku? Aku tak kuasa menahan perasaanku, kupeluk Eunchan erat .

"nado saranghaeyo, chan-ah"

"j.. jinjja?" tanya Eunchan tak percaya. Aku mengangguk dan tersenyum . Eunchan memelukku erat.

"Gomawo, oppa"

Appa, mianhae, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu kali ini. Aku mencintai Eunchan-ku..

---------------------------------------------------------------------------------------------------

"Minji-ah, maaf aku tidak bisa menikahimu. Aku.. mencintai orang lain.. Mianhaeyo, Minji"

"Oppa, aku mencintaimu! Sungguh mencintaimu! Tidak bisakah kau memberiku sedikit ruang dihatimu untuk kusinggahi?" paksa Minji sambil menangis. Aku menggeleng lemah.

"Mian, minji-ah." aku berbalik hendak meninggalkan Minji, aku tidak tahan melihat wanita menangis dihadapanku.

"Oppa......"

BRUK!

Kulihat Minji pingsan dibelakangku. Aku segera berlari menghampirinya.

"Minji-ah! ya! Minji! Ireona!" aku berteriak menepuk-nepuk pipi Minji. Namun tidak ada yang terjadi, yang kulihat saat ini adalah cairan merah yang merembes keluar dari hidung dan bibirnya yang tertutup. Aku panik dan segera menelepon ambulans.

-------------------------------------------------------------------------------

"Maaf harus mengatakannya, tapi Lee Minji mengidap leukimia stadium akhir. Diperkirakan hidupnya tak lama lagi" perkataan dokter Kim terus menghantuiku. Aku sudah menyakiti hati Minji disela-sela waktunya yang tinggal sedikit.

APA YANG HARUS KULAKUKAN SEKARANG ???

Appa terus mendesakku menikahi Minji, tapi bagaimana dengan Eunchan??

3hari kemudian..

ANDWAE ! Appa terkena serangan jantung untuk yang kedua kalinya!
"appa, jangan tinggalkan aku.. jebal.." tangisku dalam hati.

Aku terus berlari menyusuri koridor rumah sakit. Sampailah aku keruang rawat inap appa.

"s..siwon-ah.. menikahlah dengan Minji. Bahagiakanlah dia di sisa terakhir nyawanya. Dan juga demi kebahagian appa" bisik appa lirih padaku. Aku menangis. Dan aku mengangguk menyetujuinya. Appa tersenyum padaku.

"Gomawo siwon-ah, appa bangga padamu." tangisku semakin menjadi.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

"chan, mian. Kurasa hubungan kita cukup sampai disini." ucapku datar. Eunchan menatapku tak percaya.

"oppa? waegeurae?" tanya Eunchan dengan suara bergetar.

"aniyo, aku rasa kau bukanlah wanita yang tepat untukku. Karena itu hubungan kita cukup sampai disini, chan-ah" kataku seraya berbalik meninggalkan Eunchan. Aku sama sekali tidak menoleh lagi kearah Eunchan, aku takut jika aku berbalik aku akan berlari kearahanya dan memeluknya erat dan bersumpah tidak akan melepaskannya.
seandainya aku bisa...

Malam harinya..

"Ting Tong~" kudengar suara bel rumahku berbunyi. Aku beranjak untuk membuka pintu.

"oh Kyu, ada apa malam-malam begini?" sapaku pada Kyuhyun yang berdiri tepat dihadapanku.

BUK !!

Satu tinju Kyuhyun sukses mendarat mulus diwajahku. Aku meringis kesakitan.

"APA MAKSUDMU MEMPERMAINKAN PERASAAN EUNCHAN??!!!" teriak Kyuhyun padaku.

"Kyu, aku bisa jelaskan semuanya padamu!"

BUK !!

Satu lagi tinju Kyuhyun mendarat di wajahku.

"DUA HARI LAGI AKU AKAN PERGI KE AMERIKA ! AKU SUDAH MERELAKANNYA PADAMU KARENA KAU SAHABATKU SEKALIGUS HYUNGKU ! TAPI LIHAT APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA, CHOI SIWON YANG TERHORMAT !!!" sembur Kyuhyun padaku. Ia menangis. Lagi. Aku memeluknya, tahu bahwa perasaannya hancur dan kacau saat ini. Kyuhyun menepis tanganku.

"Jangan sentuh aku! Aku pergi!" ucap Kyuhyun datar.

"Kyu! Tunggu! Kyuhyun! aisssssssh!!" rutukku seraya memegang bekas tinju Kyuhyun diwajahku.

-----------------------------------------------------------------------------------------

Aku melamar Minji hari ini dan ia sangat senang dengan lamaranku. Minggu depan kami akan melangsungkan pernikahan. Aku segera bergegas menuju Incheon Airport karena satu jam lagi pesawat Kyuhyun akan segera Take off.

@Incheon Airport..

Itu dia!! Kyuhyun, kulihat ia mendekap Eunchan erat.

"Kyu.." sapaku lemah. Kyuhyun melepaskan dekapannya pada Eunchan.

"Mau apa lagi kau datang kesini ? Belum cukup kau membuat masalah?" ujar Kyuhyun memalingkan wajahnya dariku.

"Hyun, sudahlah.." tegur Eunchan pelan.

"Hah! Chan! Bagaimana mungkin kau masih membelanya sementara ia yang membuatmu menderita!" dengus Kyuhyun kesal.

"Mianhae chan. Mianhae Kyu. Suatu saat nanti aku pasti akan menjelaskannya pada kalian."

"Sudahlah, aku muak melihatmu! Chan, aku pergi dulu. Ingat, jangan pernah merindukanku, chan. Kau akan lebih menderita" ujar Kyuhyun pada Eunchan. Kemudian pergi begitu saja mengabaikanku.

"Chan, kuantar pulang ya?" tawarku pada Eunchan.

"ah.. tidak usah oppa. Gwenchanhayo"

"sudahlah, khajja!"

@Siwon's Car..

"Chan, mianhae. aku tahu aku sudah menyakitimu" kataku membuka pembicaraan. Karena daritadi aku dan Eunchan hanya terdiam.

"gwenchanhayo oppa. baik-baiklah dengan Minji onnie."

"ne, arasseo, chan.. Gomawo"

---------------------------------------------------------------------------------------

Pernikahanku dengan Minji berlangsung sederhana, mengingat kondisi appa dan Minji yang tidak memungkinkan untuk perayaan besar-besaran. Minji terlihat sangat bahagia hari itu. Hingga ia tak kuasa menahan tangisnya.

Kini genap 2tahun usia pernikahanku dengan Minji. Aku terduduk sendiri diranjangku. Kamar ini serasa kosong tanpa kehadiran Minji disisiku. Aku membuka album pernikahanku dengan Minji, disana aku menemukan banyak tawa menghiasi wajah pucatnya. Dilembaran terakhir album, aku mendapati sebuah amplop biru bertuliskan :

"To My Beloved Husband, Choi Siwon"

Aku membukanya dan membaca isi surat tersebut.

Oppa, ah aniyo, Yeobo gomawo untuk semuanya.

Terimakasih kau sudah menikah denganku.

Terimakasih kau sudah mau memberikanku sedikit ruang di hatimu.

Terimakasih kau sudah memberiku kenangan yang sangat indah diakhir hidupku.

Aku tahu saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak ada disampingmu lagi.

Maafkan aku karena tidak bisa terus berada disisimu.

Maaf karena aku tidak bisa menjadi istri yang cukup baik untukmu.

Maaf karena aku belum sempat memberimu malaikat kecil untuk menghiasi hidupmu.

dan sekali lagi kukatakan untuk yang terakhir kalinya..

Maaf, aku mencintaimu ..

Your Wife ,

Choi Minji.

Aku menangis sejadi-jadinya. Minji, maafkan aku karena tidak bisa mencintaimu. Tapi terimakasih, berkatmu aku bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai begitu tulus dan dalam.

"Siwon-ah, kenapa kau menangis?" tegur seseorang padaku

"ah, appa. mengagetkanku saja"

"kenapa kau menangis siwon-ah?" tanya appaku lagi.

"aniyo, appa. aku hanya teringat Minji" jawabku jujur.

"Wae? Bukankah kau tak pernah mencintainya?"

"Ne, arasseo appa. Tapi ia gadis yang begitu baik. Hingga aku merasa berdosa pernah menyakitinya"

"Appa tahu kau mencintai orang lain. kejarlah cintamu, nak. Yang dulu sempat kau tunda karena keegoisan appa dan keadaan Minji"

"Appa, itu tidak mungkin. Saat ini dia pasti sudah menemukan pendamping hidupnya"

"Mengapa tidak kau coba saja dulu?"

------------------------------------------------------------------------------------------------

Disinilah aku sekarang, berdiri didepan rumah Go Eunchan. Wanita yag sangat kucintai hingga saat ini. Aku memberanikan diri memencet bel dan beberapa saat kemudian muncul sesosok gadis cantik dari balik daun pintu.

"o..oppa??" kata Eunchan yang terkejut karena kehadiranku yang tiba-tiba.

"chan.." tiba-tiba muncul seseorang dari balik tubuh Eunchan.

"Kau.."

"Kyu.."

"oppa, ada apa kemari?" tanya Eunchan . Aku memeluknya erat, aku sangat merindukan Eunchan-ku.

"Kau.. Apa kau mau memainkan perasaan chan lagi setelah membuangnya begitu saja? Tidak baik jika istrimu datang dan melihatmu sedang berpelukan dengan wanita lain" ucap Kyuhyun sinis. Aku tersenyum kecut dan melepas Eunchan.

"Istriku, ah ani, Minji, ia melihat semua yang kulakukan dari atas sana"

"mwo? oppa? Minji onnie.....?" aku mengangguk lemah.

"Minji mengidap leukimia stadium akhir, dan ia menghembuskan nafas terakhirnya satu tahun yang lalu, tepat dihari ulang tahun pernikahan kami yang pertama"

"oppa, mianhae.." ujar Eunchan .

"Chan, maukah kau menerimaku kembali?"

"eh?"

"would you marry me, Go Eunchan?" tanyaku. Eunchan mengangguk.

"Ne, oppa. I do~" aku segera memeluk Eunchan. Aku bersumpah tidak akan melepaskan Eunchan selamanya walau apapun yang terjadi .

"Ehem. Sepertinya kalian lupa ya ada satu orang lagi disini" Kyuhyun berdeham. Aku dan Eunchan tertawa. Aku merangkul Kyuhyun.

"Gomawo Kyu, kau sudah menjaga Eunchan selama ini. Kau memang dongsaengku yang terbaik"

Kyu membalas rangkulanku. dan kamipun tertawa bersama.
Aku bersyukur memiliki Eunchan-ku yang sangat kucintai dan Kyuhyun yang akan selalu ada disisiku selamanya .

-END-

Sunday, 25 April 2010

FF ; My Neverending Story (one shot)

"TIDAK ! Aku tidak mau, appa!" teriakku pada appa.

"mwo? tapi ini demi kebaikanmu, seo yeon-ah!" appa balas membentakku. aku terkejut. selama aku hidup 17 tahun lamanya bersama appa, appa tidak pernah membentakku sekeras ini. air mataku mulai menggenang di pelupuk mataku. aku berlari meninggalkan appa. aku berlari sekencang-kencangnya, aku menuju sebuah taman kecil yang rindang. Karena lelah, aku memutuskan untuk duduk di salah satu bangku di taman itu.

"kalau tahu begini, aku tidak akan mau di ajak ke seoul sama appa!" gumamku, menyesali keputusan bodohku yang menyetujui pergi ke seoul bersama appa.

-Flashback 3 hari yang lalu-

"seo yeon-ah, appa sudah lama tidak ke korea. kau mau ikut appa ke korea tidak?" tanya appaku tiba-tiba. aku yang sedang terpaku didepan laptop langsug menoleh dan melongo ke arah appa.

"j.. jinjja? kita.. mau ke.. korea?? korea... selatan?? s..seoul??" kataku terbata-bata seraya menunjuk layar laptopku yang sedang menampilkan video klip super junior ft. girls' generation yang berjudul S.E.O.U.L, yang bermaksud untuk iklan pariwisata kota seoul. Dan setiap harinya aku selalu bermimpi agar bisa kesana dengan cara apapun. Kini, appa malah mengajakku dengan cuma-cuma, jelas aku sangat terkejut.

"ya, kalau kau mau ke seoul boleh saja, kita bisa menginap di seoul" appa berkata dengan sangat ringan dan tersenyum padaku.

"kyaaaaaaaaa! appaaaaaa~ saranghaeyoooo~" aku berteriak dan berlari masuk ke dalam pelukan appaku.

"naddo sarangaheyo, seo yeon-ah." appa tersenyum dan mengacak rambutku dengan sayang. Esok harinya aku dan appa berangkat ke seoul dan aku sudah sangat berdebar menanti pemandangan indahnya kota seoul yang kuimpikan.

-Flashback end-

"aaaaaaaaah, jinjja baboyaaaa!!" teriakku pada diriku sendiri. untung taman ini sepi, kalau tidak mungkin aku sudah disangka orang gila karena berteriak seperti ini. "eomma, ottokhajyo?" aku terisak, mengadu pada eommaku yang ada diatas sana.

***

oh iya, aku belum memperkenalkan diri, namaku Lee Seo Yeon. Aku tinggal di Indonesia sejak lahir, tapi namaku adalah nama orang korea karena appa dan eomma-ku orang korea asli, namun mereka pindah dari korea ke indonesia sejak 17 tahun yang lalu. Eomma ku sudah meninggal saat aku berusia 7 tahun karena penyakit gagal ginjal yang dideritanya. Aku hanya tinggal berdua dengan appa, tapi aku bahagia karena appa selalu mengerti aku. Aku sangat berharap appa akan mengajakku berlibur ke korea suatu saat nanti. namun kini, ketika impianku terkabul, aku malah dihadang oleh kenyataan pahit yang menderaku!
ya, appa ingin menjodohkanku dengan anak rekan bisnisnya, yang sekaligus teman semasa kuliahnya dulu. dijodohkan? memangnya appa pikir aku se tidak laku itu sampai mau menjodohkanku dengan orang yang belum kukenal sama sekali?
SHIREO ! aku tidak mau! kalau jodohku setampan Choi Siwon super junior yang notabene adalah idola abadiku sih tidak apa-apa. tapi kalau sampai jodohku jauh dari yang kuharapkan? SHIREO !!! pokoknya aku tidak mau!!!

***

"aku tidak mauuuuuuuu!!!" teriakku lagi.

"kau tidak mau apa?" tegur seorang pria mengejutkanku. aku terdiam dan menutup mulutku.

"a.. aniyo.." kataku. aduh, siapa sih ini! mana aku tidak tahu jalan pula ! aku kan tidak punya kenalan sama sekali di seoul ! gerutuku dalam hati.

"kau ada masalah?" tanyanya lagi. aku menggeleng. "lalu kenapa kau berteriak seperti tadi?"

"ah.. aniyo.. naneun gwenchanhayo. annyeong!" aku segera beranjak dan meninggalkannya. aku menghela nafas lega karena ia tidak mengikutiku, tapi ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. sepertinya aku tidak asing dengan wajah itu. ya, wajah pria yang tadi ada di taman bersamaku, ia mengenakan topi, kacamata hitam, dan syal tebal, seperti detektif yang sedang melakukan penyamaran...


aisssssh!! apa-apaan sih aku ini ? aku kan tidak punya kenalan di seoul?! gerutuku dalam hati.

***

esok harinya..

"seo yeon-ah, hari minggu nanti kau akan bertemu dengan tunanganmu" kata appa padaku, aku menoleh cepat.

"mwo? minggu? itu kan 3hari lagi,appa? secepat ini? shireo! aku tidak mau!" tolakku cepat.

"seo yeon-ah, kau mau mempermalukan appa didepan teman appa? berlakulah yang sopan dan anggun layaknya seorang wanita, jangan bertingkah seperti anak-anak lagi! kau ini sudah berumur tujuh belas tahun!" kata appa sedikit berteriak. aku terhenyak. kenapa appa jadi diktator seperti ini sih? appa egois sekali ! jeritku dalam hati.

"appa, aku tidak mau,appa... jebal.." aku memohon, air mataku lagi-lagi sudah menggenang dipelupuk mataku.

"mianhae, seo yeon-ah. appa sudah terlanjur berjanji pada teman appa, appa yakin ini yang terbaik untukmu.." jawab appa. tangisku pecah, sudah tak dapat kutahan.

"kalau saja eomma masih hidup, eomma pasti akan mengerti aku! tidak seperti appa!!" aku berteriak pada appa dengan air mata yang mengalir deras, aku berlari keluar hotel menuju ke taman yang kemarin aku kunjungi. "hiks.. hiks.. eomma, ottokhae?" aku terisak semakin keras. tidak mengerti apa yang harus kulakukan, bahkan aku sudah berani berteriak pada appa-ku. aku sungguh anak yang tidak tahu diri !

"kau butuh ini?" tanya seseorang seraya menyodorkan sebuah sapu tangan biru ke arahku. aku menoleh.

"boe? kau lagi?" tanyaku, masih terisak.

"ya, aku lagi. wae ? kau tidak suka melihat kehadiranku?" tanyanya, tersenyum padaku.

"aissh.. sudahlah.." aku menundukkan kepalaku lagi dan melanjutkan tangisku.

"kau kenapa? aku tahu kau pasti ada masalah. gwenchanha, ceritakanlah padaku" ia menyerahkan sapu tangan birunya kedalam genggaman tanganku.

"hiks.. appa-ku mau menjodohkanku.. hiks.. dengan pria yang.. hiks tidak aku kenal sama sekali.. bla bla bla..." aku bercerita panjang lebar pada pria itu, anehnya ia hanya diam dan mendengarkan sambil sesekali mengangguk menandakan bahwa ia masih mendengarkan ceritaku dengan seksama.

"jadi intinya, kau tidak mau mengikuti perjodohan itu?" tanyanya lagi setelah aku berhenti bercerita dan berhasil menguasai emosiku yang tadi meledak-ledak.

"shireo! aku tidak mau! masa aku harus menikah dengan pria yang tidak kukenal?" jawabku cepat. ia hanya terdiam dan tertunduk lesu.

"hm.. kau akan dijodohkan hari minggu ini bukan? masih ada tiga hari lagi.." katanya tiba-tiba. aku menoleh padanya, menatap wajahnya yang sebenarnya tampan jika tidak memakai penyamaran seperti itu.

"hm.. memang masih ada tiga hari lagi. tapi aku bisa apa?" kataku lemas. menatap lurus ke pahaku, ikut tertunduk.

"bagaimana kalau kita bertemu selama tiga hari ini? di waktu dan tempat yang sama?" usulnya, membuatku terkejut.

"mwo? tapi.. aku tidak kenal kau siapa.. aku...." belum sempat kuselesaikan kalimatku, ia sudah menyelanya.

"ah ya, chonun.. euhmm.. cho shi wa imnida.. namamu siapa?"

"chonun lee seo yeon imnida" ujarku padanya.

"baiklah, seo yeon-sshi. mulai besok kita bertemu disini di jam yang sama ya. sekarang aku harus pergi, annyeong!" katanya tiba-tiba, kemudian ia berdiri dan meninggalkanku sendirian.

***

esok harinya aku menemui pria yang mengaku bernama cho shi wa itu, ia pria yang sangat baik menurutku. anehnya, wajahnya tampak tidak asing dimataku. namun, ia selalu memakai 'atribut' penyamarannya yang membuatku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. ia pribadi yang sangat menyenangkan, ia bisa menjadi tempat curhat yang sangat baik dan ia akan mendengarkanku dengan suka cita bahkan membantu memberikan solusi. sampai pada hari ketiga pertemuan kami, ia masih saja memakai 'atribut'nya itu. kami duduk dibangku taman seperti biasanya sambil memakan es krim.

"seo yeon-sshi" panggilnya. aku menoleh. ia duduk tepat disebelahku, auranya terasa hangat.

"ne, shi wa-sshi?" jawabku, memperhatikannya.

"kau bilang kau menyukai choi siwon super junior ya ?" pertanyaannya sungguh membuatku terkejut. aku mengangguk dengan refleks.

"ya, aku menyukainya. ah tidak, aku mencintainya! ia bagian dari hidupku. aku rela mengorbankan apapun untuknya, dia cinta abadiku seumur hidupku!!" kataku antusias dengan mata berbinar. ia tertawa kecil.

"apapun?" tanyanya lagi, berusaha meyakinkan.

"ya, apapun." jawabku mantap. ia tergelak.

"bahkan ia tidak mengenalmu, seo yeon-sshi" aku menggembungkan pipiku, berpura-pura ngambek padanya.

"ne, arasseo. tapi, berharap sedikit tidak ada salahnya kan? toh aku sudah sampai di kota seoul" aku berkata seraya membuka lebar tanganku, merasakan angin musim gugur kota seoul yang sejuk dan nyaman. "tapi impianku hancur lebur karena appa" lanjutku.

"maksudmu soal perjodohan itu?" ia bertanya, aku mengangguk lagi. kali ini kesal sungguhan.

"ya, appa mau menjodohkanku dengan kau-tidak-tahu-siapa! yang benar saja?!" kataku dengan nada dilebih-lebihkan. ia tergelak lagi. aku menoleh kesal padanya, namun aku tercengang melihat wajahnya yang begitu tampan dan tidak asing. suaranya pun terdengar tidak asing bagiku, tapi aku enggan menanyakannya, takut salah orang !

"kenapa kau tidak mencoba saja dulu perjodohan itu?" katanya, membuatku tersedak es krim yang sedang kumakan.

"uhuk.. uhuk... kau bilang apa tadi, shi wa-sshi? uhuk..." kataku terbatuk-batuk. ia menepuk punggungku, aku mulai bisa mengendalikan batukku.

"iya, mengapa tidak kau coba saja dulu perjodohan itu? siapa tahu calon suamimu tampan seperti choi siwon idolamu itu!" ia tertawa.

"aniyo ! tidak mungkin ada yang bisa menandingi ketampanan choi siwon-ku!" bantahku. ia masih tertawa.

"jinjja? setampan itukah choi siwon-mu?"

"ne, aku serius. tidak akan ada yang bisa mengalahkannya deh!" aku ngotot pada argumenku.

"ne, arasseo arasseo!" iya berkata sambil menepuk kepalaku. entah kenapa rasanya nyaman..

"kalau begitu ini hari terakhir kita bertemu?" tanyaku padanya, pancaran sedih jelas terdengar dari suaraku dan terlihat dari raut mukaku.

"itu tergantung, kalau besok kau masih mau bertemu denganku, aku tidak keberatan" ia nyengir padaku. aku balas cengirannya.

"jinjja? waaah senangnyaaaaaaa~" pekikku.

"kau sesenang ini sementara besok kau harus dijodohkan? aigooo... aku tidak mengerti hahahaha" katanya riang. aku tidak mempedulikan kata-katanya. sepanjang sore itu kami bermain sampai puas ditaman itu. aku dan shi wa-sshi juga mengunjungi beberapa tempat lainnya, intinya aku sangat senang bertemu dengannya!

***

hari minggu..

akhirnya, perjodohan laknat yang tidak kunantikan itu datang juga. appa terlihat sangat kagum melihat kecantikanku mengenakan dress panjang berwarna putih dengan clucth dan high heels berwarna senada. rambutku dibiarkan terurai dan dijepit dengan bunga palsu sebagai hiasan. overall, aku terlihat sangat cantik siang itu, menurut appa.

"khajja! ayo kita jalan. tidak enak bila keluarga choi harus menunggu lama" kata appa. aku merengut disampingnya, memutuskan untuk tidak bicara.

sesampainya aku di lobby hotel tempat pertemuan appa dengan calon besannya kelak, aku semakin berat melangkahkan kakiku untuk terus maju. rasanya aku ingin sekali berbalik memutar tubuhku dan berlari sekencang-kencangnya, menjauh dari tempat yang indah namun terasa seperti neraka ini bagiku. tapi aku tahu, aku pasti akan mengecewakan appa, padahal aku sangat mencintai appaku, aku tidak ingin menyakiti hatinya. sesekali aku ingin melihat appa bahagia semenjak kepergian eomma.

"eomma, ottokhajyo?" gumamku cemas bercampur gugup. aku berjalan dibelakang appa dan hanya mengikuti langkahnya. aku tidak berani menatap sekelilingku.

"ah! Lee Jang Suk-sshi!" kudengar suara berat seseorang memanggil nama appaku, aku tetap tidak berani menoleh.

"ya! choi hyun dae-sshi! aigoo~ lama tidak bertemu!" balas appaku sangat ramah dan hangat. mereka berdua berpelukan, hingga akhirnya Hyun Dae adjussi memperhatikanku.

"annyeong haseyo. chonun Lee Seo yeon imnida. mannaseo bangapseumnida, hyun dae adjussi" kataku seraya membungkukkan tubuhku. aku mulai gemetar melihat wajah hyun dae adjussi. ya, kuakui wajahnya memang tampan sebagai orang seusia appa, tapi tetap saja aku tidak tahu wujud anaknya kan? aissssh...

"mana anakmu yang tampan itu? aku sudah tak sabar melihatnya" kata appa, wajahku merah padam. appaaaaaa bikin aku malu saja, kesannya aku yang ngebet mau ketemu anaknya >.<

"ah, dia mungkin akan sedikit terlambat. semalam dia ada shooting sampai larut" kata hyun dae adjussi. mwo? shooting? anaknya artis ya? kok aku tidak tahu?

"ah, ne arasseo arasseo, jadi orang terkenal memang sedikit sulit ya" appa tertawa diikuti tawa hyun dae adjussi. aku cuma terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

"ah, appa. mianhae aku telat. jeongmal mianhae" tiba-tiba terdengar suara pria yang tidak asing bagiku tapat dibelakangku, aku terlalu takut untuk menoleh.

"ah, siwon-sshi. kau ini! cepat beri salam" ujar hyun dae adjussi, membuatku terkejut setengah mati. jantungku terasa berhenti berdegup, aku terlalu gemetar untuk menolehkan kepalaku. kurasakan seorang pria berlalu dari belakangku, wangi parfumnya tercium sangat jelas, sangat familiar. kemudian, ia berdiri di samping hyun dae adjussi, berhadapan denganku dan appa.

"annyeong haseyo. chonun choi siwon imnida. mannaseo bangapseumnida" ia membungkukkan badannya, kemudian tegap lagi.

duniaku terasa berputar. aku melihat idolaku, obsesiku, cinta abadiku seumur hidup, choi siwon, berdiri tepat dihadapanku, tampan seperti malaikat yang baru saja turun dari dunia khayalku. tersenyum padaku dan appa, memberikan salam dan memperkenalkan diri. aku tidak mau mempercayai mataku, aku tidak mau memendam diriku dalam euforia kebahagiaan sebagai seorang fans-nya, aku hanya menekap mulutku dan tidak sanggup berbicara sepatah katapun.

"wah, tampan sekali putramu, hyun dae-sshi" kata appa, melihat siwon dari atas kebawah, menilai kesempurnaannya yang tiada tara. tanpa sadar aku mengikuti apa yang dilakukan appa.

"sama seperti anakmu yang sangat cantik seperti bidadari, jang suk-sshi. ah, siwon-ah kenalkan ini Lee seo yeon, pasangan hidupmu kelak." kata hyun dae adjussi sambil menoleh ke arahku. aku tertunduk malu, tidak tahu harus menatap siapa.

"ne, arasseo appa. bolehkah kami jalan-jalan sebentar ditaman sebagai tahap perkenalan kami, appa?" tanya siwon pada hyun dae adjussi yang langsung disambut dengan tawa riang hyun dae adjussi dan appa. aku menoleh ke arah siwon, ia mengedipkan sebelah matanya padaku. aisssh.. duniaku sebentar lagi akan runtuh, kakiku terasa seperti tidak menginjak permukaan bumi saat ia melakukan hal itu padaku.

"tentu saja boleh, nak. silakan mengobrol sepuas yang kalian mau. kami akan duduk dan mengobrol disini sekalian bernostalgia" kata hyun dae adjussi. appa mengangguk setuju. "ne, siwon-ah bawalah dia ketempat-tempat yang menyenangkan. belakangan ini dia suka sekali marah-marah. sepertinya moodnya sedang jelek" kata appa ku menambahkan. aku malu sekali. aisssh appaaaaaa... >.<

"ne, arraseo appa. jang suk adjussi, saya pinjam putri anda sebentar ya" ia tersenyum kemudian menggamit lenganku dan menggiringku keluar. aku tersentak saat lengannya yang kekar dan hangat itu menggamit lenganku. rasanya seperti dibawa terbang oleh dewa-dewi langit yang murah hati(?)

"seo yeon-sshi, gwenchanhayo?" tanyanya padaku sambil tersenyum, aku menatapnya merasakan mataku meleleh melihat senyumnya. oh tidak ! jangan senyum itu ! jangan sekarang ! aku belum siap ! protesku dalam hati.

"seo yeon-sshi?" panggilnya lagi, kali ini dengan nada cemas. lututku sangat lemas, aku tidak sanggup menopang berat tubuhku, hingga hampir terjatuh, tepat pada saat siwon menangkap tubuhku.

"seo yeon-sshi! gwenchanha??" ia panik, kemudian menggendongku dengan mudah dalam dekapan dadanya yang bidang dibalik balutan jas hitam dan kemeja biru mudanya, membawaku ke audi hitam miliknya.


"euhm.. na.. naeneun.. gg.. gwen.. gwenchanhayo.. s..siw..siwon-sshi" kataku terputus-putus, aku belum bisa mengendalikan rasa terkejutku.

"kau grogi sekali ya? bukankah kau sudah biasa didekatku?" tanyanya, mengerling nakal padaku. aku menatapnya dengan pandangan tak mengerti. ia membuka bagasi mobilnya dan mengambil sebuah goodie bag yang cukup besar. ia mengeluarkan topi, syal, kacamata hitam, dan mantel dari dalam goodie bag itu. kemudian ia memakainya satu persatu. aku tersentak.


"ah! cho shi wa-sshi!!!!" pekikku histeris, sangat terkejut. ia tersenyum kemudian mengangguk.

"ya, aku cho shi wa. ah, aniyo, aku choi siwon, cinta abadimu" ia tersenyum menatapku. aku tidak percaya. kemudian aku mulai menampar pipiku sendiri. ia terkejut melihat tingkahku dan segera menghentikan aksiku.

"ya! sedang apa kau? kenapa menampar wajahmu sendiri?" tanyanya khawatir.

"aniyo.. aku hanya.. hanya sedang memastikan" jawabku.

"mwo? memastikan apa?" tanyanya lagi, sekarang ia terlihat heran.

"memastikan.. bahwa ini bukan sekedar mimpi terindahku" kataku lirih. ia tergelak.

"seo yeon-sshi, ini kenyataan! bahwa kau dijodohkan denganku. bersyukurlah karena aku memintamu datang ke perjodohan ini"

"mwo? jadi kau sudah tau siapa aku sebelumnya?" tanyaku terkejut.

"ne, arayo. aku diberi foto dan data lengkapmu dari appa, aku berusaha mencari mu dan aku menemukanmu disudut taman itu sambil menangis, segera saja aku mendekatimu" jelasnya. aku hanya menganga..

"dan jujur saja, semenjak saat itu aku merasa aku ingin melindungimu. aku tidak ingin kau menumpahkan air mata itu lagi. dan saat 3 hari pertemuan kita, aku merasakan sesuatu yang aneh berdesir didadaku" lanjutnya. mataku membelalak lebar.

"tapi.. kenapa kau tidak langsung saja membuka kedokmu saat aku bercerita seru tentangmu? kenapa kau malah membuatku terkejut sampai hampir mati seperti ini?" tanyaku heran, ia tersenyum padaku. lagi ! senyuman yang membuatku meleleh.. Oh Tuhan ampunilah dosaku..

"karena aku sangat bahagia ketika kau bilang bahwa aku adalah 'cinta abadi'-mu, itu terdengar seperti pernyataan cinta bagiku" ujarnya, aku tertunduk malu wajahku berubah merah padam. ia mengelus kepalaku dengan sayang, mengajakku keluar dari mobil dan berdiri dibawah pohon yang rindang.

"seo yeon-sshi?" panggilnya. aku terkejut, dan segera menoleh padanya. ia menatapku penuh arti, aku mulai salah tingkah.

"ne?" jawabku gelagapan.

"apa kau senang kalau aku yang ternyata tunanganmu?" pertanyaannya membuatku tersentak. ia menggenggam kedua tanganku. aku mulai keringat dingin.

"seo yeon-sshi?" tanyanya lagi, menuntut jawaban. aku mengangguk.

"jinjja? gomawo, seo yeon-ah" ia mengecup keningku. aku sudah tidak bisa terkejut lagi, jantungku sudah sangat lelah merasakan kejutan yang bertubu-tubi. aku tersenyum memandangnya. mulai bisa mengatasi perasaanku.

"bagaimana denganmu, siwon-sshi? apa kau senang memilihku menjadi tunanganmu?" tanyaku. ia tersenyum nakal.

"aniyo! aku sangat sial mendapat tunangan sepertimu! masih banyak gadis yang lebih baik diluar sana!" jawabnya seraya mengerling nakal padaku, membuat nafasku memburu karena kesal. ia tertawa.

"hahahaha.. aku hanya bercanda seo yeon-ah. aku SANGAT bahagia" jawabnya.

"jinjja?" tanyaku meyakinkan.

"mwo? kau tidak percaya? baiklah" ia merengkuhku dan menempelkan bibirnya ke bibirku. aku kaget sampai hampir pingsan, namun aku berhasil mengendalikan emosiku lagi. ia melepas ciumannya dan tersenyum.

"bagaimana? sudah percaya?" ia mengerling nakal.

"aissssh, siwon-sshi!" pekikku.

"ya! aku kekasihmu, panggil aku oppa!" ujarnya pura-pura kesal.

"shireo! aku tidak mau memanggilmu oppa!" kataku seraya menjulurkan lidahku padanya.

"aisssh.. jinjjaaaaaaaaaa..." ia merengkuh tubuhku dan aku masuk ke dalam pelukan hangatnya.

"seo yeon-ah saranghaeyo~" ia berbisik ditelingaku.

"naddo saranghaeyo, siwon oppa" balasku sambil tersenyum.

***

"shina, ayo makan sarapanmu sayang" panggilku pada gadis kecil yang sedang asyik bermain puzzle di ruang keluarga

"sebentar eomma, ini hampir selesai" jawabnya. aku menghela nafas, mengerti keadaannya

"ya, ya! putri appa yang cantik sudah bangun?" sahut seseorang, shina menoleh cepat dan segera masuk ke dalam rengkuhan lengan appanya yang siap menggendongnya. kemudian shina duduk dipangkuan appa-nya


"yeobo, kau sudah bangun? kopimu sudah siap" kataku menghampiri suami tercintaku.

"gomawoeyo, chagiya" balasnya dan mengecup bibirku sekilas.

ya, inilah aku, Lee seo yeon, ah aniyo, Choi Seo Yeon. bersama keluarga baruku yang kubina dengan suamiku yang sangat kucintai, choi siwon, yang masih menekuni pekerjaannya didunia entertainer. pernikahan kami telah berlangsung 4 tahun yang lalu dan kini kami memiliki seorang bidadari mungil yang sangat cantik yang dianugerahi Tuhan untuk kami, ia adalah Cho Shi Na, buah hatiku dan choi siwon. aku berharap ini bukanlah akhir dari mimpi indahku, namun awal dari kehidupan baruku yang bahagia untuk selamanya.

-END-

notes : jelek ye ff siwon gue hahahah ? yasudahlah mau apalagi XDD

Saturday, 24 April 2010

FF ; My Angel (One Shot)


aku duduk di bangku taman yang sepi, aku sendirian ditaman itu malam ini. sekelebat kejadian yang baru saja kualami akan menjadi mimpi buruk dan terus menghantui sepanjang hidupku.

-Flashback 1 jam yang lalu-

"mianhae,oppa aku tidak bisa lagi terus memaksakan diri. aku sadar bahwa aku mencintai orang lain" kata Hye Jin, kekasihku. aku telah menjalin hubungan dengannya selama 2tahun terakhir, dialah yang mengisi hidupku dengan tawa dan keceriaan selama ini.

"boe? ANDWAE ! kumohon hyejin-ah, jangan tinggalkan aku!" kataku setengah memohon dan menatapnya tak percaya. hye jin menggeleng.

"mianhae,oppa. jeongmal mianhae. aku tidak mau membuatmu sakit hati lebih dalam, aku tidak mau membohongi oppa terlalu lama" lanjut Hyejin. Aku terbelalak, tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan.

"kau tahu, hari ini hari jadi kita di tahun kedua. dan kau bilang apa tadi? tidak mau menyakitiku? tapi ini menyakitkan,hyejin-ah!" kataku emosi, air mata hye jin menggenang dipelupuk matanya, tangisnya pecah saat itu juga.

"mianhae oppa, jangan temui aku lagi. selamat tinggal" Hyejin berlari meninggalkanku, aku hanya diam dan terduduk lemas. otakku masih belum bisa mencerna semua yang ia katakan. hatiku masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini. aku menatap kepergiannya dengan tatapan yang sangat menderita.

-end of flashback-

ya, disinilah aku sekarang, terduduk lemas disebuah bangku taman dan memikirkan semua yang terjadi. aku merogoh saku mantelku dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. aku membukanya dan menatap sebuah cincin bermata berlian biru safir yang sangat indah. aku berencana untuk memintanya menikah denganku, tapi aku tidak percaya dengan apa yang terjadi padaku malam ini. aku menghela nafas panjang dan akhirnya berdiri. aku merapatkan jaketku karena cuaca memang sangat dingin seperti hatiku yang mendingin karena baru saja ditinggal orang yang sangat kucintai dan kukasihi selama ini.
aku memutuskan untuk kembali ke apartemen. saat aku sampai didepan apartemenku, aku mendapati seorang gadis berdiri disana dengan wajah bingung. aku mendekatinya.

"ya! apa yang kau lakukan disini?" tegurku, ia terkejut melihat kehadiranku.

"ehm.. benarkah ini apartemen Cho Kyuhyun?" tanyanya, aku terkejut. dari mana ia bisa tahu namaku? aku saja tidak pernah mengenalnya, bertemu pun tidak pernah.

"ya, benar. dan Cho Kyuhyun adalah aku. ada perlu apa?" jawabku. Kini, gantian dia yang terkejut dan menatapku tidak percaya.

"kau.. kau cho kyuhyun?" tanyanya, masih tidak percaya.

"ya, kenapa?"

"omo.. tampan sekali.." gumamnya

"mwo? tadi kau bilang apa?" tanyaku

"ani.. aniyo.. oh iya mulai hari ini aku akan jadi pengurus rumah tangga di apartemen ini, mohon bantuanmu" ia membungkukkan badannya . "chonun Park Hyo Ri imnida. Mannaseo bangapseumnida" lanjutnya.

"euhm.. memangnya aku memesan pengurus rumah ya? sepertinya tidak.." kataku.

"ani.. bukan anda yang memesannya kyuhyun-sshi, tapi teman anda, Lee Sungmin. Ia berbicara pada agen penyalurku untuk datang ke alamat ini." jawabnya sambil tersenyum.

"oh.. sungmin hyung. baiklah silakan masuk" kataku. aku membiarkannya masuk karena aku sudah terlalu lelah memikirkan semuanya. aku hanya ingin cepat-cepat masuk kedalam selmut hangatku dan merebahkan diriku dengan nyaman.

"kamsahamnida, kyuhyun-sshi" ia masuk dan melihat ke dalam apartemenku, ia tercengang melihatnya.

"ada apa?" tanyaku padanya.

"ah.. aniyo, aku belum pernah masuk kedalam apartemen semewah ini" jawabnya, masih terus memandangi seluruh penjuru apartemenku, aku hanya tersenyum.

"kau bisa pakai kamar yang disebelah sana,Hyo Ri-sshi" kataku padanya dan menunjuk sebuah pintu, ia memandangku lagi dan tersenyum.

"panggi aku Hyo Ri saja" aku mengangguk dan masuk ke dalam kamarku yang bernuansa hijau. aku menemukan sedikit ketenangan disana.


aku mengganti bajuku dengan piyama motif kangguru dan merebahkan diriku di ranjang. kemudian aku mengambil ponselku dan mengetik pesan untuk Sungmin Hyung.

To : Lee Sungmin
From : Cho Kyuhyun

"hyung, kau memesan pengurus rumah tangga untukku ya? gomawoeyo,hyung^^ kau tahu saja kebiasaanku yang suka lupa membersihkan rumah kalau sudah main game."

balasan dari sungmin hyung datang sangat cepat, aku sampai heran sendiri. tumben sungmin hyung membalasnya cepat sekali.

To : Cho Kyuhyun
From : Lee Sungmin

"cheonmaneyo,kyuhyun-ah. aku harap kau senang dengan kehadirannya, menurut agennya dia adalah yang terbaik^^ semoga ia bisa mengurusmu dengan baik selama aku pergi ke Jepang :)"

aku tersenyum membacanya, kemudian aku sibuk dengan pikiranku sendiri. aku masih memikirkan Hyejin, tanpa kusadari air mataku telah jatuh dan membasahi bantalku. aku menangis jika mengingat kenangan-kenangan manisku bersama Hyejin, wanita yag kucintai hingga saat ini, tak lama kemudian aku merasa lelah dan saat jam menunjukkan pukul 3 pagi, kelopak mataku menutup dan akupun tertidur.

***

esok paginya..

aku mencium wangi masakan yang sangat sedap dari arah dapur. aku memutuskan untuk beranjak dari kasurku karena aku sangat lapar. aku melangkahkan kaki keluar kamar, kulihat seorang wanita yang sedang sibuk menata makanan di meja makan.

"ah, pagi, kyuhyun-sshi. kau pasti sudah lapar? ayo, segera ganti baju dan makan sarapanmu" sapanya padaku. aku masih bingung, aku lupa bahwa semalam aku membiarkannya masuk ke rumahku dan aku teringat bahwa ia pengurus rumahku yang baru.

"ne, arasseo" jawabku tersenyum padanya dan dibalas dengan senyuman manis darinya.

***

sudah enam bulan semenjak HyoRi tinggal di apartemenku, aku semakin terbiasa dengan kehadirannya, bahkan kadang aku merasa kesepian bila ia sedang pergi berbelanja dan aku sendirian dirumah. Walaupun terkadang aku masih memikirkan Hyejin, namun HyoRi mengalihkan pikiran itu dengan sejuta macam perhatiannya padaku. aku senang menerima perhatiannya. Bagiku, ia seperti malaikat yang turun dari langit tepat saat aku membutuhkannya. ia pribadi yang ceria dan mudah bergaul. wajahnya pun cantik dan manis, aku tidak percaya ia bisa bekerja sebagai pengurus rumah. namun, ia melakukan seluruh tugasnya dengan sangat baik dan aku sangat senang menerima kenyataan itu. Kini, hubungan kami makin dekat dan dia mulai memanggilku dengan sebutan 'oppa', jelas karena aku yang memintanya memanggilku seperti itu.

"oppa, maukah kau menemaniku ke swalayan ?" tanya HyoRi padaku. aku tersenyum dan mengangguk.

"tentu saja, khajja! kita berangkat sekarang." jawabku antusias, ia tersenyum dan mengikutiku berjalan ke arah mobil.

aku dan Hyori berbelanja bersama di swalayan, di mata orang mungkin kami tampak seperti sepasang kekasih. namun pada kenyataannya tidak seperti itu. Aku masih belum bisa menerima kehadiran wanita lain yang menggantikan posisi Hyejin dihatiku, walaupun aku selalu berharap agar Hyejin dapat bahagia bersama pria itu. Ya, aku tahu siapa pria yang merebut Hyejin dari sisiku, ia adalah Lee Hyuk Jae. temanku semasa SMA dulu. aku hancur mendapati kenyataan itu, aku menangis semalaman dan HyoRi-lah yang menemaniku sepanjang malam itu.

BRUK !

"kya!" pekik HyoRi disebelahku, aku menoleh dan melihatnya hampir terjatuh . aku menangkapnya dengan kedua tanganku. Saat itu wajahku dan wajahnya terpaut sangat dekat, hatiku sedikit berdesir saat melihat wajahnya sedekat itu, aku langsung tersadar dan melepaskan genggamanku dari tubuhnya.

"eh.. mianhae, tadi aku tidak bermaksud.." kataku gugup dan terbata-bata.

"ah, gomawoeyo,oppa. naneun gwenchanhayo" ia tersenyum padaku dan kami meneruskan acara belanja kami.

***

esok harinya, aku mendapati ada sesuatu didalam kotak suratku, karena penasaran aku membukanya.

HAPPY WEDDING
- LEE HYUK JAE & KIM HYE JIN -


mataku terbelalak lebar membaca nama yang tertera diatas undangan merah itu. aku sungguh tidak percaya Hyejin benar-benar meninggalkanku. aku tertunduk dan menangis lagi, menangisi kebodohanku karena terlalu berharap bahwa Hyejin akan kembali kedalam pelukanku. HyoRi menghampiriku dan mengelus pundakku dengan sayang, aku tidak menoleh padanya, terlalu malu untuk menunjukkan wajah hancurku didepannya.

***

Satu setengah tahun telah berlalu semenjak HyoRi menjadi pengurus rumahku. Kini aku benar-benar tidak bisa melepaskannya dari sisiku. Aku sadar aku telah jatuh cinta padanya. Aku cinta pada senyumnya, aku cinta pada sifatnya yang selalu ceria dan mendukungku, aku mencintai seluruhnya yang ada pada HyoRi. Tapi, aku tidak berani menyatakannya. Aku tahu aku terlalu pengecut untuk menjadi seorang pria. Aku takut kejadian yang menimpaku 2tahun silam akan terulang kembali, dimana Hyejin pergi meinggalkanku untuk orang lain. Aku hanya memendam perasaan itu dalam-dalam, aku bahagia walau hanya bisa tersenyum dan melihatnya setiap hari dipenuhi keceriaan yang terpancar dari matanya yang indah. Aku sudah berasil melupakan Hyejin sepenuhnya, aku merelakan kepergiannya dan membiarkan ia berbahagia bersama Hyukjae, pria yang dipilihnya. Itu semua berkat HyoRi, malaikat yang diturunkan oleh Tuhan khusus untukku.

***

"oppa, mianhae besok aku harus pergi." katanya padaku, tiba-tiba. aku sangat terkejut.

"boe? kau mau kemana?" tanyaku.

"masa kerjaku disini sudah habis,oppa. aku bekerja disini hanya untuk dua tahun" lanjutnya. aku lemas. TIDAK ! ini terjadi lagi! ini tidak boleh terjadi ! aku berteriak didalam hati.

"andwae! kau tidak boleh pergi!" sahutku.

"ta.. tapi oppa.. masa kerjaku..." belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, aku memeluknya. aku sudah tidak tahan lagi. aku tidak ingin kehilangan orang yang kucintai untuk yang kedua kalinya. ia terkejut dengan perlakuanku.

"kumohon, Hyori-ah. jangan tinggalkan aku. kumohon.. " kataku lirih. ia melepas pelukanku, dan aku kembali memandangi wajah cantiknya yang kini siap dibasahi airmata.

"mianhae, oppa. aku tidak bisa. aku harus pindah ke Jepang karena agenku telah memindahkanku untuk bekerja disana" jelasnya, air matanya kini telah jatuh, tangisnya pecah. dan aku melihatnya dengan tatapan menderita. tatapan yang sama saat aku merelakan kepergian Hyejin 2tahun yang lalu. aku memeluknya lagi.

"saranghaeyo, hyori-ah" bisikku ditelinganya. tangis hyori makin menjadi, aku memeluknya makin erat, hingga ia tertidur dalam pelukanku.

***

"oppa, aku pergi dulu" pamitnya padaku. aku memandangnya. "oppa, gwenchanha?" tanyanya.

"ne, naneun gwenchanhayo" jawabku pelan, aku menghela nafas.

"aku akan segera kembali oppa, aku akan segera kembali untukmu" katanya berjanji. aku memeluknya lagi dan kali ini tidak berniat untuk melepaskannya.

"saranghaeyo,hyori-ah" kataku lirih, ia tersenyum padaku.

"naddo saranghaeyo, oppa" kali ini, aku tersenyum mendengar jawabannya. aku mendekatkan wajahku dan ia memejamkan matanya. akhirnya bibir kami saling bersentuhan dengan lembut. Aku bersumpah aku akan merindukannya.

***

Dua tahun sudah semenjak kepergian Hyori ke Jepang, aku kembali duduk termangu dibangku taman malam ini. Selama dua tahun ini tidak ada kabar dari Hyori sama sekali. Aku kecewa jika ia melupakanku, padahal aku tidak pernah melupakannya sedetikpun. Rasanya aku ingin sekali menangis, namun aku harus kuat, aku tidak ingin jadi laki-laki pengecut lagi yang hanya bisa meratapi kenyataan pahit yang menimpaku. Aku menghela nafas, dan merasa percuma berlama-lama duduk ditaman ini. Aku memutuskan untuk kembali ke apartemenku.
Saat aku hendak pergi dari taman itu, seseorang memanggilku.

"Kyuhyun oppa" aku menoleh, mencari suara itu. suara yang sangat kurindukan. suara yang sangat ingin kudengar selama ini. suara yang menghilang sejenak dari kehidupanku, kini telah kembali.

"h..hyori-ah?" kataku tak percaya. ia tersenyum.

"masa oppa sudah lupa padaku?" katanya pura-pura tersinggung dengan perkataanku, aku tidak peduli dengan kata-katanya. lenganku kini sudah merengkuhnya kedalam pelukanku.

"bogoshippoeyo.. jeongmal bogoshipoeyo, hyori-ah" kataku lirih.

"ne, arasseo oppa" jawabnya. "naddo" lanjutnya dan membenamkan diri kedalam pelukanku.

"kupikir kau akan meninggalkanku sama seperti Hyejin 4tahun yang lalu"

"aniyo oppa, bukankah aku sudah berjanji untuk kembali padamu?" ia tersenyum.

"sarangaheyo, Park Hyo Ri" kataku padanya.

"naddo saranghaeyo, Cho Kyuhyun" jawabnya. aku tersenyum dan mencium bibirnya lembut. Aku menyematkan cincin bermata berlian biru safir di jari manisnya. Cincin yang tak sempat ku sematkan di jari wanita yang kucintai 4tahun silam.

"nawa gyoronhaejullae?" tanyaku padanya. ia terkejut dan memandangi jari manisnya. kemudian tersenyum dan mengangguk mantap.

"i do~" jawabnya yakin. aku memeluknya lagi untuk yang kesekian kalinya.

Sekali lagi, aku berterimakasih kepada Tuhan yang telah mengirimkan satu malaikat tercantiknya untukku. dan aku berjanji untuk menjaganya sampai akhir hidupku.

-END-


p.s : ini ff one shot-ku yang kedua . maaf ya kalo jelek :)

Friday, 16 April 2010

FF; Me and My Lovely Secret Pattisier

"mmm.. aku pesan strawberry softcake sama mix fruit punch nya 1 ya"

"baik, nona. pesanan anda akan diantar sebentar lagi. permisi, nona" jawab pelayan tersebut dan meninggalkanku sendirian ditempat dudukku.

"hmm.. cuaca hari ini bagus sekali, memang cocok untuk makan yang manis-manis" gumamku seraya melihat ke arah langit biru yang indah.

"permisi nona, saya mengantarkan pesanan anda" suara waiter yang tiba-tiba datang sedikit mengejutkanku.

"oh ya, kamsahamnida. taruh saja disini" kataku dan menunjuk ke arah meja kecil didepanku. setelah waiter itu pergi, mataku tertumbuk pada secarik kertas biru kecil yang terselip diantara nampan dan piring kueku . Penasaran, kubuka kertas kecil yang harum itu dan aku membaca nya.

To : a beautiful girl who sit on that chair almost everyday

why you're so beautiful ? i think, i fall in love with you..

From : Your Secret Admirer

"mwo? Secret Admirer? Nugu?" gumamku keheranan. Namun, hatiku sedikit senang dan terhibur hingga tanpa sadar aku menyunggingkan senyum simpul ke arah surat yang barusan kubaca. Dan tanpa kusadari juga seseorang memperhatikanku sambil tersenyum.

***

oh ya, aku belum memperkenalkan diri ya? namaku Kim Hye Soo mahasiswi semester 2 jurusan Art and Modern Music di Kyunghee Univesity. Aku tinggal sendirian di Seoul karena ingin menempuh pendidikan di Kyunghee Univeristy, aku tinggal disebuah apartemen di kawasan Kangnam. Sekarang, aku berada di cafe langgananku sekaligus tempat favoritku bila ingin sendiri dan menghabiskan waktu luangku, namanya Amour cafe. Amour sendiri diambil dari bahasa Perancis yang berarti cinta. Aku sangat suka kue yang dijual disini karena rasanya sangat enak, karena itu diam-diam aku mengagumi pattisier handal yang membuat segala macam jenis kue yang ada disini. Tapi aku tidak tahu dia siapa, yang kudengar orangnya dingin dan galak, tapi aku tidak percaya dia bisa menghasilkan kue seperti ini.

***

HAP..
"mmm... enaknyaaaa..." kataku seraya memegang pipiku.

shinning star.. like a little diamond.. makes me love~

"aishh mana ya handphoneku?" gumamaku seraya mengobrak abrik isi tas. "ini dia!"

From : Lee Sung Jin

"ya! hye soo-ah, kau dimana? siang ini kita ada mata kuliah penting. jangan sampai terlambat!"

aku tersenyum, membaca sms dari sahabatku, Lee Sung Jin. Aku segera mengetik balasannya dengan cepat

To : Lee Sung Jin

"tenang saja sung jin-ah, aku pasti akan sampai tepat waktu. kau berangkat saja duluan"

setelah itu aku segera menghabiskan kue dan fruit punch ku, dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus.

***

Kyunghee University..

Gawat! aku bisa terlambat nih ! kalau saja tidak ada kecelakaan lalu lintas yang membuat jalanan macet, aku pasti sampai tepat pada waktunya!
Aku segera berlari melintasi lapangan basket Kyunghee, tiba-tiba ada sebuah bola basket melayang ke arahku.

BUKK !!

"kyaaaaaaa!" aku terjatuh dan kehilangan kesadaranku.

"ya! ya! jangan pingsan!" aku mendengar sekilas teriakan seseorang.

***

-Choi Siwon's POV-

aissh bagaimana ini? dia belum sadar juga! kenapa juga dia bisa berada ditempat yang salah sih? aissssh aku bingung sekali !!

"u..uh.. aku dimana?" aku berpaling saat mendengar gumamannya. yes ! akhirnya dia sadar. terimakasih Tuhan !!

"ya! berbaring saja dulu ! kau ini kenapa bisa ada di situ sih? tidak lihat apa orang sedang bermain basket ?" aku nyerocos saja, mengomelinya dan mencoba mempertahankan image 'cool'-ku yang sudah melekat dari dulu.

"mwo? bilang apa kau barusan?! kenapa kau malah menyalahkanku?! kau yang membuatku terkena bola! aku ini korban dan kau tersangka,tahu!" katanya membalas perkataanku, mukanya menyiratkan kekesalan yang tiada tara dan menatapku tajam.

-Kim Hye Soo's POV-

orang ini! kenapa dia malah memarahi dan menyalahkanku atas kejadian ini?! aku tahu dia pangeran supertampan dan superdingin yang dikejar-kejar banyak wanita diseluruh kampus ini, tapi jangan samakan aku dengan mereka yang bisa langsung memaafkan semua kesalahanmu dengan hanya melihat wajahmu yang tampan tapi jutek itu,wahai tuan muda Choi Siwon!

"kau yang salah! kenapa kau lewat disitu? kan masih banyak jalan lain !" hardiknya padaku, aku memasang tampang sejutek mungkin dan menatapnya setajam yang kubisa walaupun tentu saja tidak setajam tatapannya.

"sekarang terserah kau sajalah! aku tidak peduli kau atau aku yang salah" jawabku ketus dan beranjak dari tempat tidur ruang kesehatan. aissh kepalaku pusing, badanku masih limbung. tidak, aku akan terjatuh !!

GREP !

"kau ini memang suka merepotkan orang ya?" tanyanya, terdengar jengkel.

"kalau kau tidak suka menolongku, mengapa kau masih saja melakukannya?!" kataku tanpa melihat wajahnya, aku langsung pergi meninggalkannya.

"huuuuuuh sial, gara gara dia aku tidak ikut mata kuliahku yang penting!" gerutuku dalam hati sambil berjalan menuju kafetaria kampus.
ah ! dia lagi! kenapa sih dia terus ada disekelilingku? aisssh ! wajahnya yang tampan membuatku muak melihatnya! sudahlah, aku buang muka saja!

-Choi Siwon's POV-

ha? gadis itu lagi. kenapa dia ada disini juga? bisa gawat nih kalau dia melihatku lagi. lagipula, kenapa tadi aku seketus itu ya? padahal kan aku.. ah sudahlah..!
aku menatapnya, dan ia membuang muka!
hey,nona?! tidakkah kau sadar siapa yang tadi menolongmu?

"ya! kau belum berterima kasih padaku !" kataku seraya menghampiri mejanya.

"mau apa kau kesini?" tanyanya ketus, aku tergelak.

"kau belum berterima kasih padaku, nona Kim Hye Soo!" jawabku, dan membuatnya memalingkan wajahnya yang cantik itu padaku.

ya, aku memang menyukainya selama ini. kenapa?
karena dia tidak pernah menyukaiku, baik aku maupun hartaku.
aku tersenyum.

"berterima kasih untuk??" ia lanjut bertanya, wajahnya masih kesal.

"hey! aku sudah menyelamatkanmu dua kali! tidakkah kau sadari hal itu?" kataku, kembali tergelak dan itu membuat wajahnya semakin kesal.

"TERIMA KASIH UNTUK SEGALANYA CHOI SIWON-SSHI !" ia beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkanku sendirian. aku hanya bisa melongo dan tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak-anak.

***

3hari kemudian..

-Kim Hye Soo's POV-

"aissh sudah lama tidak kesini.." gumamku.

"nona, mau pesan apa? seperti biasanya?" tanya seorang waiter, Park Young Jin, padaku.

"ya, aku mau strawberry softcake, tapi minumnya strawberry juice saja ya"

"ne, arasseo nona. pesanan anda akan segera diantar" kata pelayan itu beranjak pergi.

aku mengeluarkan novel breaking dawn ku dari tas dan mulai membacanya. tak lama kemudian pesananku datang.

"selamat menikmati nona" kata waiter itu padaku, membuatku menoleh.

"ne, kamsahamnida" jawabku padanya, aku menutup bukuku dan mendapati secarik kertas biru terselip diantara buah strawberry diatas cake ku. kubuka kertas itu dan aku membacanya dengan hati berdebar

To : a beautiful girl who sit on that chair almost everyday

where are you yesterday? where are you 2days ago? i'm looking for you, i've been waiting for you minute by minute, hours by hours, day by day. Finally, today, you came to this cafe, i really miss you.

From : Your Secret Admirer

aku tersenyum, menoleh ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat ada orang yang sedang memperhatikanku. akhirnya aku memutuskan untuk menyantap kue ku .

"mmm.. manis. lebih enak dari biasanya" gumamku tertegun. aku semakin mencintai pattisier yang membuat kue selezat ini. aku sangat mengaguminya.

***

Kini, setiap hari aku selalu datang ke Amour Cafe dan setiap hari pula aku mendapatkan kejutan manis dari isi surat itu, sementara itu kue kue yang dibuat oleh sang pattisier handal itu semakin enak hingga suatu hari aku terkejut membaca isi surat dari 'pengagum rahasia'-ku itu

To : a beautiful girl who sit on that chair (now) everyday

you made my life brighter now, you come to this cafe everyday now, you like my cake ? i made this especially for you

From : Your Secret Admirer

"mwo? dia bilang dia siapa??" aku bergumam, terkejut membaca isi surat itu. kubaca suratnya sekali lagi.
ya. dia bilang dia adalah 'pembuat' kue ini. kue selezat ini adalah buatannya! dan itu berarti selama ini dia adalah Pattisier pujaanku ! Pattisier yang ku kagumi dan kucintai selama ini! tapi siapa dia??

***

"hye soo-ah, hari ini kau mau kemana?" tanya sung jin padaku.

"mm... aku mau ke Amour Cafe. kenapa? kau mau ikut?"

"bolehkah?" tanyanya

"tentu!" seruku.

aku dan sung jin berjalan ke Amour Cafe, disana kami bercanda dan tertawa bersama. akhirnya aku dan sung jin mulai rutin mengunjungi cafe itu hampir setiap hari. namun yang aneh, aku tidak mendapat surat dari pattisier pujaanku itu . aku merasa agak sepi dan agak sedih .

***

hari ini aku datang sendirian ke Amour Cafe dan aku mendapati ada surat di atas kueku, tepatnya diselipkan diantara potongan strawberry mungil yang menghiasi kue.

To : a beautiful girl who sit on that chair (now) everyday with that boy

i'm so jealous with that boy. who is that ? is that your boyfriend? i don't like to see you with another man except me. because i'm yours and you're mine.
i love you

From : Your Secret Admirer

aku tertegun. ia cemburu pada sung jin? astaga, apa yang harus kulakukan?? bahkan aku tidak tahu siapa dia walaupun aku mecintainya.
ya, aku mencintainya dan aku tahu ini terdengar aneh.

***

Esok harinya di Kyunghee University..

"sung jin-ah!" panggilku.

"boe? ada apa hye soo-ah?"

"kau tahu amour cafe yang ada di dekat namsan tower itu?"

"mwo? iya aku tahu, waeyo?"

"kau tahu siapa pattisier yang membuat kue kue disana?"

"BOEYA ? KAU TIDAK TAHU??" pekik sung jin histeris, membuatku menutup telingaku yang sakit karena suaranya.

"ya! kau ini ! pelan-pelan dong!!" hardikku padanya.

"kau ini payah sekali sih?! kemana saja selama ini?"

"aisssh aku kan tidak tahu makanya aku bertanya padamu, sung jin-ah!" kataku protes.

sorry sorry sorry sorry.. naega naega naega monjeo..

"ah, chakkaman ! aku angkat telepon dulu. "

"sung jin-ah! sung jin-ah! aissssssh" panggilku. tapi percuma, sung jin sudah menghilang dari pandanganku. aku memutarnalik tubuhku.

BRUK !!

"aisssssssh hati-hati kalau jalan! kau tidak punya mata ya? lihat! semua bukuku jadi berserakan!" kataku mengomel. aku menengadahkan kepala dan kudapati choi siwon sedang berlutut memunguti bukuku satu persatu. ia menyodorkan tangannya padaku dan membantuku berdiri.

"mianhae, hye soo-sshi" katanya padaku, tersenyum. aish ! apa ini? jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya.

"kau tahu? ini sudah yang kedua kalinya kau menabrakku sampai jatuh!" kataku, mengatasi debaran didadaku.

"mungkinkah itu berarti kita berjodoh?" katanya mengerling nakal padaku. aku mendengus.

"huh, bermimpipun tidak!" kataku ketus dan meninggalkannya, ia tergelak. aku kesal sekali melihatnya! frekuensiku bertemu dengannya semakin sering sekarang. aku curiga jangan-jangan ia mengikutiku kemanapun aku pergi? aisshh! babo! mana mungkin! pikiran macam apa itu?

***

aku pergi ke Amour Cafe untuk menghilangkan kekesalanku pada choi siwon yang menyebalkan itu, dan aku selalu membaca surat darinya.

To : a beautiful girl who sit on that chair (now) everyday

what happen with you today? your face look so bad, are you on the bad mood? i hope my cake can make you smile as usual :)

From : Your Secret Admirer

aku tersenyum dan rasa penasaranku pun makin menjadi. akhirnya aku memutuskan untuk tinggal di cafe itu lebih lama hari ini.

"nona, maaf tapi kafenya sudah mau tutup." tegur seorang waiter padaku.

"ah ne arraseo, apakah pattisiernya sudah pulang?" tanyaku padanya.

"belum nona, memangnya ada apa ?" tanya waiter tersebut .

"ah, aniyo. baiklah aku pulang dulu. kamsahamnida" kataku.

"kamsahamnida" jawab pelayan itu .

aku segera keluar dari cafe, namun aku memutuskan untuk menunggu pattisier itu pulang, aku sangat penasaran.
30menit sudah aku menunggu, pattisier itu tidak keluar-keluar dari ruang staff . lelaaaah~

CKLEK..
kudengar suara pintu dibuka, akupun segera mengintip dan masuk ke tempat persembunyianku.

"ya! pak pattisier, besok jangan terlambat ya!" seru seseorang dari dalam ruang staff.

"iya, tenang saja. besok aku akan datang tepat waktu" jawab orang yang dipanggil 'pak pattisier' oleh temannya.

sial, wajahnya masih terhalang pintu! aku belum bisa melihatnya!

"hhh~ lelahnya." gumam pattisier itu, ia menggaruk kepalanya dan menengadahkan wajahnya ke langit luas "tapi aku bahagia bisa melihat wanita yang amat kucintai itu tersenyum lagi untukku hari ini" lanjutnya.

mwo?? itu pattisiernya?
chakkaman!!
wajah itu.. sepertinya aku tidak asing.. sepertinya familiar..
OMO !
itu Choi Siwon !!!
CHOI SIWON !! Tuan muda supertampan, superdingin dan superkaya yang dikejar-kejar oleh para wanita di kampusku !
apa mataku tidak salah lihat?
apa benar dia itu pattisier yang ku kagumi dan kucintai selama ini?

BRUK !
aisssssh ! tanganku tidak sengaja menyenggol tumpukan koran bekas yang ada disebelahku ini! semoga saja siwon tidak mendengarnya!

-Choi Siwon's POV-

BRUK !!

"mwo? suara apa itu?" gumamku, heran. aku menghampiri tumpukan koran bekas yang ada disitu. aku terkejut mendapati wanita yang baru saja kubicarakan ada tepat dihadapanku.

"ya! kim hye soo! sedang apa kau disitu?" tanyaku, mungkin terdengar sedikit ketus baginya. padahal aku sama sekali tidak bermaksud begitu.

"ah mianhae, aku hanya..." ia terlihat panik dan ingin menangis. aku menghela nafas.

"sudahlah tidak perlu dijelaskan. ayo kuantar kau pulang saja" kataku akhirnya.

"m..mwo? aniyo, aku bisa pulang sendiri" katanya mengelak.

"aishh, tidak baik wanita jalan sendirian malam-malam begini" kutarik tangannya, dan membawanya kemobilku.

***

"rumahmu dimana?" tanyaku lembut, membuka pembicaraan, karena dia terus saja diam dan memandang keluar jendela.

"m.. mwo?" tanyanya dengan wajah yang lucu, aku tergelak.

"aku tanya, rumahmu dimana?"

"mm.. aku tinggal diapartemen di daerah kangnam" jawabnya sedkit ragu, aku tersenyum.

"itu kan daerah rumahku juga" kataku mengaku, sebenarnya aku sudah tau dimana rumahnya, hanya ingin mengetes kejujurannya saja tidak apa kan ? hehehe..

"ne, arayo." katanya lirih. kali ini aku terkejut dan menoleh.

"mwo? kau tahu rumahku?"

"ya, siapa yang tidak tahu rumah konglomerat Choi di kawasan Kangnam?" katanya pelan.

"hahaha.. tidak seperti itu" kataku, dan kami diam-diaman, ia tampak salah tingkah.

akhirnya kami sampai diapartemennya dan aku membukakan pintu mobil untuknya. ia berdiri dan membungkuk

"kamsahamnida siwon-sshi" katanya tulus dan tersenyum sangat manis.

"ne, cheonmaneyo." kataku balas tersenyum padanya.

"ehh, siwon-sshi maaf tapi apa benar kau adalah pattisier Amour Cafe?" tanyanya, membuatku menoleh cepat dan aku mendapati wajahnya merah padam.

"mwo? kau...."

-Kim Hye Soo's POV-

aissh aku sudah tidak tahan! baiklah, kutanyakan saja!

"ehh, siwon-sshi maaf tapi apa benar kau adalah pattisier Amour Cafe?" tanyaku, membuatnya menoleh padaku dan wajahku berubah merah. aduh kenapa sih dia berubah jadi sangat lembu malam ini? membuatku tidak karuan saja!

"mwo? kau..." ia terlihat salah tingkah

"a.. ani.. lupakan saja pertanyaanku barusan. selamat malam, siwon-sshi" kataku, dan berbalik menuju apartemenku.

GREP!

"s.. siwon-sshi.. a..apa yang kau??" tanyaku sangat terkejut. ia memelukku, erat. sangat erat.

"ya, akulah pattisier di cafe itu, akulah yang selalu membuatkan kue untukmu, akulah yang selalu menyelipkan surat kecil dikuemu, akulah secret admirer-mu, akulah yang cemburu pada sahabatmu, semuanya aku" katanya berbisik ditelingaku. aku masih sangat terkejut, sehingga tidak mampu berkata apapun dan hanya bisa melongo.

"saranghaeyo. sudah lama aku menyukaimu. mianhae karena sering membuatmu kesal, aku pasti sebal kan karena sering melihat wajahku? itu karena aku selalu mengikutimu dan menjagamu. saranghaeyo, kim hye soo" lanjutnya. aku menekap mulutku, tidak percaya atas apa yang dia katakan barusan. ia membalikkan tubuhku, menatap mataku lurus sampai ke dalam, menanti jawaban dariku. aku balas menatapnya dalam.

"nado saranghaeyo, siwon-sshi" jawabku akhirnya, ia tersenyum padaku. kubalas dengan senyumanku yang termanis. ia mendekatkan wajahnya padaku, aku menutup mata. akhirnya ia menempelkan bibirnya yang lembut ke bibirku.

"i love you my Pattisier" kataku tersenyum.

note : maaf ya jelek hahahaha yang baca gausah protes ah, gue keabisan ide nih XDD

Tuesday, 23 March 2010

FF ; From Seoul With Love chapter 8

author: anggi

"mwo? oppa? sedang apa disini?" anggi terpekik kaget.

"oppa, bagaimana bisa tahu kami ada di sini?" natasya melanjutkan pertanyaan anggi.

"menjemput kalian~" kata suara pria dari dalam mobil. Natasya dan anggi mendekati mobil tersebut.

"oppa,bagaimana kamu tahu kami ada di sini?" tanya natasya lagi. Pria di dalam mobil, yang ternyata adalah siwon, tersenyum mendengar pertanyaan natasya. anggi yang berdiri di samping natasya, melirik natasya sambil senyum-senyum najis (haha apantau)

"nanti saja kujelaskan,kalian naik saja dulu!" kata siwon. berhubung cuaca yang sedang dingin, mereka pun langsung masuk ke dalam mobil siwon.

"baiklah,kalian mau ke mana?" tanya siwon seraya menghidupkan mesin mobil.

"em,sebenarnya sih kita mau ke apartemen kita sendiri, oppa" kata anggi.

"oh kalian punya apartemen? di mana?" tanya siwon lagi.

"tidak jauh dr sini sih. kalau menggunakan taksi sih 15 menit sampai" kata anggi lagi. Natasya yg duduk di samping anggi,hanya bs tertunduk malu. ia jadi speechless dan tidak ingin berbuat apa-apa dulu sekarang (takut salting)
"biasa saja!" bisik anggi di telinga natasya.

"memangnya aku tidak biasa?" kata natasya seraya menatap anggi. Siwon lalu menoleh dan berkata, "hai hye soo-sshi! dari tadi kamu diam saja!" sambil tersenyum tampan. Natasya menatap siwon sekilas, dan karena malu ia langsung nunduk lg.

"oppa,jadinya kita kapan berangkat?" kata natasya malu

"ah,baiklah. tapi lebih baik kalian aku antar ke dorm suju saja dulu ya" kata siwon. "kupikir kalian belum makan,dan di dorm kami sedang makan besar!"

"dorm suju oppa? tidak merepotkan?" tanya anggi

"aniyo, tidak apa-apa kok. baiklah dorm,we're coming!" kata siwon lalu ia memacu mobilnya menuju dorm.

***

Tiba di dorm...

siwon membuka pintu dan memasuki dormnya. di dalam, para anggota super junior sedang asyik makan. Shindong dan kangin sedang lomba 'menghabiskan 3 mangkok kimchi dalam waktu 1 menit' sampai wajah mereka merah, disaksikan oleh wookie, sungmin dan kyuhyun. And the winner? shindong of course. eunhyuk dan leeteuk sedang asyik saling menyuapi steak, namun mereka tidak melakukannya dg benar. para member yang lain juga sedang asyik makan, sampai akhirnya leeteuk menyadari kedatangan siwon bersama anggi dan natasya.

"ah,siwon-ah kau pulang!" kata leeteuk seraya berdiri dan menghampiri siwon, natasya dan anggi yg masih berada di pintu.member suju semuanya langsung menoleh ke arah siwon.

"loh itukan cewek yg tadi siang dibawa jaejoong dan yoochun hyung ke sukira tadi?" gumam ryeowook. Sungmin yg berada di samping wookie membenarkan.

"siwon-ah,mereka bersamamu?" tanya leetek sambil menatap anggi dan natasya. Anggi hanya bisa senyum-senyum.

"ya, mereka berencana meninggalkan dorm dbsk hari ini dan akan kembali ke apartemen mereka. tapi kupikir mereka makan bersama kita saja dulu di sini!" kata siwon.

"wah kebetulan,kita sedang banyak makanan di sini. Masuklah" kata leeteuk. lalu anggi dan natasya masuk ke dalam dorm suju.

"duduklah sini" kata leeteuk sambil menyiapkan tempat di sampingnya untuk anggi dan natasya

"ne oppa,gomawo" kata anggi,lalu ia dan natasya duduk di depan meja makan.

"baiklah dengan kedatangan tamu baru yang cantik-cantik, mari kita makan lagi!" kata shindong. Semua orang di ruangan tertawa,dan mereka makan malam bersama dengan suka cita.

***

"oh,aku mulai mengantuk" kata anggi sambil mengenyakkan diri di kursi berlengan di ruang tv. Natasya duduk di kursi satunya lagi

"ya aku juga" kata natasya sambil melakukan hal yg sama dengan anggi.

"hhh,kita mau kembali ke apartemen jam berapa nih nat?" tanya anggi seraya melirik arlojinya "omo,sekarang sudah jam setengah 12!"

"astaga,larut sekali..." kata natasya. Siwon lalu menghampiri anggi dan natasya.

"bagaimana kalau malam ini kalian bermalam di sini dulu? ini sudah terlalu larut, besok saja kalian kembali ke apartemen kalian" kata siwon.

"yang benar,oppa?" pekik natasya setengah kaget. Siwon mengangguk sambil tersenyum. Anggi dan natasya saling berpandangan, dan kemudian anggi berkata pada siwon "baiklah oppa,kami akan bermalam di sini"

"kami tidur di sofa saja ya oppa" kata natasya kemudian.

"hey bicara apa kalian? masa kami tega membiarkan wanita-wanita cantik seperti kalian tidur di sofa yg dingin begini? pakailah kamarku dan donghae. kami bisa tidur di kamar sungmin" kata siwon lagi.

"ah,tak perlu oppa. kami tidak ingin merepotkan" kata natasya.

"sudahlah, tak apa kok. ayo" kata siwon seraya menggaet tangan natasya menuju kamar. jantung natasya langsung berdegup kencang. Anggi tertawa kecil melihat pemandangan itu,dan ia mengikutinya dari belakang.

"nah,seperti inilah kamarnya" kata siwon setelah tiba di kamar. Koper anggi dan natasya sudah ada di kamar. ada 2 single bed yg dipisah dengan sebuah meja kecil dan table lamp.

"kamarmu bagus oppa" kata natasya. siwon tersenyum pada natasya.

"baiklah,tidur yang nyenyak. hari kita akan panjang besok" kata siwon.

"ne,oppa. kami istirahat dulu" kata natasya. siwon melambaikan tangan pada natasya dan pergi meninggalkan kamar.

"waaaah asyiknya kamu nat! aku ngiri deh" kata anggi sambil menyenggol natasya yang sedang senyum-senyum dengan muka merah.

"mimpi apa aku semalam ya?" kata natasya sangat kegirangan.

"hhh,seandainya teuki oppa seperti siwon. dia nampaknya menyukaimu!" kata anggi.

"ah kamu bicara apa sih, jangan membuatku besar kepala deh!" kata natasya. lalu ia membaringkan diri di kasur.

"hhh nyamannya... Ini pasti kasur siwon oppa. wanginya sama seperti saputangannya!" kata natasya. "oya sapu tangan! aku belum mengembalikannya ke oppa!"

"sudahlah bsk pagi saja" kata anggi sambil berbaring di kasur donghae. "selamat tidur nat" lalu mereka tidur dengan nyenyak.

to be continue ~

Wednesday, 17 March 2010

FF ; From Seoul With Love chapter 7

author : Natasya

Setelah selesai makan,mereka keluar meninggalkan kedai dan akan kembali ke studio sukira. namun di depan kedai, changmin menunggu natasya.

"ah oppa,ngapain di sini?" natasya sedikit terkejut dengan kehadiran changmin, raut mukanya yang tadinya bersemu merah sekarang makin memerah karena ia merasa 'ketahuan' oleh changmin. yaah walaupun sebenarnya dia juga tidak melakukan apapun dengan siwon, tapi tetap saja, kan?

changmin menghela nafas, mengelus dadanya sekilas dan menjawab dengan kelembutan luar biasa "aniyo, aku hanya mencarimu, dan aku melihatmu bersama siwon hyung disini. sedang apa bersama siwon hyung?"

"ya! changmin-ah kau ini bertanya penuh selidik begitu. aku hanya mengajaknya sarapan bersama" jawab siwon santai seraya menepuk bahu changmin dan merangkulnya, mengajaknya masuk kembali ke dalam gedung.

natasya, siwon, dan changminpun berjalan kedalam gedung. setelah mereka masuk, ternyata sedang ada kejadian seru disana.

"oppa! apa-apan kau! aisssh! aku tidak mengerti kenapa kau jadi begini terhadapku oppa?! padahal ini semua salahmu duluan kan?!" anggi meronta, mencoba melepaskan diri dari genggaman yunho yang erat seakan tidak akan melepasnya dan menyeretnya keluar gedung sukira.

nampaknya yunho tidak menyadari kehadiran natasya, changmin dan siwon karena ia tetap melanjutkan pekerjaannya barusan, menyeret anggi kedalam mobilnya. natasya, siwon dan changmin hanya bisa melongo melihat kejadian itu, mereka tidak tahu ada kejadian apa barusan. changmin mengajak natasya ke dalam ruang siaran sambil menggandengnya. siwon hanya diam melihat pemandangan ini, tidak tahu harus berkata apa, tapi ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. entah apa itu..

***

didalam ruang siaran..

"hyung, ada apa ?" tanya changmin dengan raut muka cemas, natasya masih ada didalam genggamannya seperti changmin tidak ingin melepaskan genggaman itu dan raut mukanya juga nampak cemas seperti changmin, siwon pun menyusul masuk ke dalam ruangan.

"mollayo~ tiba-tiba yunho daang dan menyeret mi ya, aku tidak tahu ada apa.." jawab yoochun dengan raut muka yang memang menandakan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa. begitu pula dengan jaejoong dan member suju yang lainnya.

"ada apa ya sebenarnya??" natasya gelisah. dan tanpa diketahui siapapun, raut muka leeteuk berubah khawatir. tiba-tiba ponsel changmin berdering.

"ah, chakkaman. yoboseyo?" changmin menjawab telepon sambil berjalan keluar ruang siaran.

"aduuuuh.. anggi kenapa yah?" natasya makin gelisah dan menggigiti kukunya, sambil mencoba menghubungi ponsel anggi namun tidak aktif. sementara itu changmin kembali memasuki ruang siaran sukira.

"hye soo, bisa kesini sebentar?" panggil changmin, natasya pun beranjak ke arah changmin, sementara yang lain mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

"ada apa oppa?" natasya bertanya ketika sudah berada didepan changmin.

"mianhae, sepertinya kita tidak jadi ke china town habis ini. aku ada panggilan shooting. jeongmal mianhaeyo,chagiya~" kata changmin bernada setengah bersalah dan setengah memohon.

"ah.. gwenchanhayo oppa. yasudah oppa pergi saja." kata natasya sambil tersenyum dan ber'sayonara' kepada changmin. changmin pun pergi meninggalkan gedung radio sukira, dan natasya hendak kembali ke ruang siaran. saat ia berbalik, tiba-tiba ia mendapati siwon sedang berdiri tepat di belakangnya.

"kya!" pekik natasya sangat terkejut atas kehadiran siwon persis dibelakangnya.

"ah~ mianhae, aku membuatmu terkejut ya,hye soo-sshi? jeongmal mianhaeyo" kata siwon dengan nada bersalah.

"oppa, kau sungguh mengejutkanku. aisssh hampir saja jantungku copot...." kata natasya menggantung dan malenjutkannya dalam hati "hampir saja jantungku copot melihatmu sedekat ini berdiri dihadapanku.."

"mianhae, ah bagaimana kalau kita berjalan-jalan didalam gedung saja?" tawar siwon.

"loh? oppa gak siaran?"

"aniyo~ nanti saja, aku bosan sekali nih. khajja!" siwon mengajak natasya dan tiba-tiba menggengam tangannya. wajah natasya seketika memanas, ia speechless dengan kejadian yang terlalu tiba-tiba ini sehingga ia tidak dapat berkata satu patah kata pun.

"ya! hye soo-sshi, kenapa diam saja?" tanya siwon heran melihat perubahan sikap natasya, sepertinya tadi natasya masih baik-baik saja saat di kedai makan.

"a..aniyo oppa . hanya saja..." natasya berkata dengan terbata-bata, ia merasakan tangannya sangat hangat dalam genggaman tangan siwon. dan siwon pun menyadarinya bahwa ia masih menggenggam tangan natasya erat.

"astaga! mianhae hye soo-sshi aku tidak bermaksud..." siwon berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya namun natasya memotongnya dengan cepat.

"aniyo oppa, gwenchanhayo.."

"ohya hye soo-sshi, boleh aku minta nomor ponselmu? siapa tahu aku bisa menghubungimu lain waktu dan makan bersama lagi.

"oh tentu saja boleh oppa.. nomorku 0856xxxxxxxx.." natasya menyebutkan nomor ponselnya dan siwon mencatat di ponselnya.

"gomawo hye soo-sshi" kata siwon sambil tersenyum. tampan. sangat tampan dengan dimple nya.

"cheonmaneyo oppa" natasya membalas senyumannya dengan senyuman terbaiknya. tanpa mereka berdua sadari ada seseorang yang melihat mereka berdua..

***

saat kembali ke dorm..

"kami pulaaaang. anggi mana, oppa?" tanya natasya pada junsu yang sibuk dengan laptopnya.

"hem kalau tidak salah ia tadi masuk kamar dan tidak keluar samapai sekarang." jawab junsu masih memandang ke laptopnya dengan serius.

"astaga. ada apa ya?" natasya melesat kekamar mereka. anggi terlihat sedang mempacking pakaiannya dengan tenang tapi wajahnya sedingin es.

"anggi, kamu kenapa?" tanya natasya pelan, takut salah bicara.

"aniyo~ eh nat kamu juga packing barangmu cepat." anggi tidak menghiraukan pertanyaan natasya dan terus mempacking pakaiannya . raut muka natasya berubah.

"wae? ada apa sih antara kamu sama yunho oppa?" natasya cemas sekali.

"aniyo~ sudah cepat packing sana masa kita mau nginap disini lagi? kita ke apartemen kita saja"

"ne, arasseo"

mereka berdua selsai mempacking barangnya mereka pun keluar kamar dengan membawa koper mereka. Jaejoong terlihat sangat terkejut begitu juga dengan yoochun sampai-sampai junsu yang tadinya sibuk dengan laptopnya kini mendongak ke arah mereka.

"ya! ada apa dengan kalian? kalian mau kemana?" tanya yoochun spontan, ia terkejut.

"oppa mana mungkin kami terus-terusan tinggal disini, kami mau balik ke apartemen kami" sahut natasya.

"ah iya benar, aku sampai lupa kalian punya apartemen di seoul hahaha" jawab jaejoong yang berhasil melewati keterkejutannya.

"apa perlu kuantar?" tanya yoochun.

"aniyo oppa, gomawo. tapi kami naik taksi saja tidak enak merepotkan oppa, oppa kan baru saja sampai." kata anggi dan berjalan ke luar dorm diikuti natasya.

"hati-hati ya kalian" kata jaejoong .

"ne oppa. kami pulang dulu. gomawo tumpangannya" kata natasya sambil membungkuk 90 derajat.

***

diluar dorm..

"aishh cukup dingin ya, tampaknya musim dingin akan segera datang" natasya berkata seraya merapatkan mantelnya. tiba-tiba seseorang memanggilnya.

"hye soo-sshi, mi ya-sshi" natasya dan anggi pun serempak menoleh.

"mwo? oppa? sedang apa disini?" anggi terpekik kaget.

"oppa, bagaimana kau bisa tahu kami ada disini?" natasya melanjutkan pertanyaan anggi.

"menjemput kalian~"

to be continue..